Gue belum pernah ngerasain kangen seumur hidup gue sampai gue akhirnya pindah ke negeri orang. Mungkin ketika gue di tanah air, rasa kangen nya masih manageable karena segala sesuatu dalam jangkuan. Tapi begitu pindah ke tempat lain, rasanya kangen nya seperti di kuadrat seratus dan munculnya sporadik, seperti ngga ada pola nya which means mengatasi nya susah.
Tapi gue salah.
Ternyata ada pola dalam kangen. At least, pola ini berlaku buat gue pribadi.
Kangen gue menjadi-jadi ketika gue lagi sarapan pagi di hari Minggu, karena biasa nya gue selalu makan bareng keluarga dan/atau teman-teman sepulang gereja. Kangen gue meningkat drastis ketika gue lagi scrolling timeline dan teman-teman di Indonesia pada nge-tweet tentang makan malam mereka. Kangen gue bertambah ketika gue lagi ngobrol sama teman gue yg lagi kesusahan atau lagi merayakan sesuatu, karena gue kangen berbagi. Kangen gue jadi nyelekit ketika gue lagi naik sepeda sepulang kampus, di bawah matahari yg menyengat, dan pikiran tentang orangtua gue and everything (everyone) I'm fighting for melintas di kepala. Dan kangen gue ada di puncak paling tinggi ketika gue sendirian, berusaha menyelesaikan tugas dan kerjaan, sementara temen-temen gue asik menikmati liburan mereka.
Sejauh ini, gue belum berhasil menemukan formula buat mengatasi isu ini. Dan konklusi gue cuma bahwa kangen itu ngga pilih-pilih dan selalu ngga enak.
Buat semua yang lagi rindu, I feel you.
Sent via BlackBerry from T-Mobile